Syahdan, Embah Jaya Perkasa yang mengejar-ngejar sisa
tentara Cirebon, kemudian kembali ke tempat ketiga patih menunggu. Ketika tiba
di sana ketiganya tidak ada, dicarinya ke mana-mana tidak dijumpainya, kemudian
dia menuju Kutamaya.
Setiba di sana seorang pun tidak ditemukannya, terus dia
lari ke alun-alun melihat pohon hanjuang yang ditanamnya dahulu. Ternyata pohon
itu tumbuh subur, daunnya banyak.
Dengan demikian dia bertambah marah. Ketika berpaling ke
sebelah timur terlihat olehnya asap mengepul-ngepul di lereng gunung. Dengan
mengentakkan kakinya keras-keras ke bumi, seketika itu juga dia sudah berdiri,
di lereng gunung itu.
Gunung itu sekarang disebut Gunung Pangadegan. Tidak lama
Embah Jaya Perkasa sudah berhadapan dengan Prabu Geusan Ulun, dia menyembah
kemudian berkata.
"Gusti! Mengapa kerajaan Gusti tinggalkan? Tidaklah
Gusti percaya kepada hamba?" Prabu Geusan Ulun bertitah dengan suara
perlahan-lahan. "Oh, Eyang! Eyanglah tulang punggung Kerajaan Sumedang
Larang. Kami merasa gugup setelah mendengar berita bahwa Eyang tewas dalam
medan perang. Kami ingin menyelamatkan rakyat maka kami pergi meninggalkan
Kutamaya. Dari sini terlihat jelas ke mana-mana dan musuh pun dari jauh sudah
terlihat,". Kemudian Embah Jaya Perkasa berkata," Mengapa Gusti tidak
melihat tanda yaitu pohon hanjuang yang hamba tanam?,".
"Maafkan kami Eyang. Ketika itu kami sama sekali
lupa." "Dari siapa Gusti mendengar kabar bahwa hamba telah
tewas,?". "Dari Embah Nanganan," kata sang Prabu. Mendengar
jawaban Prabu Geusan Ulun demikian itu, Embah Jaya Perkasa menjadi - jadilah
marahnya. Ketika itu juga Embah Nanganan ditikamnya sampai meninggal dunia.
Adapun temannya yang dua orang lagi yaitu Embah Kondang Hapa
dan Embah Batara Pencar Buana ditangkapnya dan dilemparkan melampaui gunung.
Embah Kondang Hapa jatuh di Citengah.
Sampai sekarang penduduk Citengah masih percaya bahwa tidak
boleh mengucapkan kata "hapa" sebab roh Embah Kondang Hapa menitis
kepada yang mengucapkannya.
Makamnya sampai sekarang masih ada di Citengah. Embah Batara
Pencar Buana atau Embah Terong Peot jatuhnya di daerah Cibungur. Konon, setelah
ketiga temannya menjadi korban kemarahannya, Embah Jaya Perkasa mengucapkan
kata-kata.
"Kalau ada keturunan di Kutamaya sejak saat ini
janganlah mau mengabdi kepada menak sebab kerja berat tetapi tidak terpakai.
Besok lusa jika aku dipanggil oleh Yang Maha Agung, mayatku janganlah sekali -
kali dibaringkan, tetapi harus didudukkan. Jika ada anak cucuku atau siapa saja
yang hendak menengok kuburanku janganlah memakai kain batik (dari Jawa),".
Setelah mengucapkan kata-kata itu Embah Jaya Perkasa terus
ke Gunung Rengganis, di puncak gunung itu dia berdiri, kemudian menghilang,
menghilang tanpa bekas. Di atas gunung tempat berdirinya Embah Jaya Perkasa
kemudian ditemukan batu yang berdiri sampai sekarang batu itu menjadi batu
keramat.
Adapun Prabu Geusan Ulun sepeninggal keempat patihnya itu
tidak pindah ke mana-mana, tetap mengolah negara Dayeuh luhur sampai wafatnya. (Sumber Sindo - Tamat)

Belum ada tanggapan untuk "Mbah Jaya Perkasa dan Prabu Geusan Ulun : Ngahiyang"
Posting Komentar