Ketika Pangeran Geusan Ulun bertukar pikiran dengan Pangeran
Girilaya, permaisuri Pangeran Girilaya, Ratu Harisbaya menyajikan santapan.
Ketika melihat Prabu Geusan Ulun, permaisuri itu terpukau dan jatuh hati dengan
ketampanan Prabu Geusan.
Kemudian Prabu Geusan Ulun bermalam di masjid dengan alasan
hendak menenangkan pikiran. Namun pada suatu hari, ketika Prabu Geusan Ulun
tidur di masjid, pada tengah malam terdengar bunyi langkah orang yang
mendekatinya.
Ketika sudah dekat ternyata orang itu adalah Ratu Harisbaya.
Prabu Geusan Ulun sangat terkejut, seluruh badannya menggigil ketakutan,
pikirannya gelap tidak tahu apa yang harus diperbuat. Segeralah dia memanggil
keempat patihnya, baginda mengajak berunding bagaimana caranya menasihati Ratu
Harisbaya yang sudah tergila-gila olehnya, yang akan bunuh diri jika tidak
terlaksana.
Prabu Geusan Ulun sangat bingung menghadapi perkara yang
sangat sulit itu. Namun menurut saran Embah Jaya Perkasa, Ratu Harisbaya lebih
baik dibawa ke Sumedang Larang sebab jika dibawa atau tidak tetap akan
menimbulkan keributan.
Sehingga malam itu juga Prabu Geusan Ulun, keempat
pengiringnya, dan Ratu Harisbaya berangkat ke Sumedang Larang tanpa pamit lebih
dulu kepada Pangeran Girilaya.
Keesokan harinya di Keraton Cirebon gempar bahwa Ratu
Harisbaya hilang meninggalkan Pangeran Gerilaya. Dicarinya ke masjid, teryata
tamu pun sudah tidak ada.
Segeralah Pangeran Girilaya membentuk pasukan untuk mengejar
dan menyerang Prabu Geusan Ulun. Dalam pengejaran di suatu tempat tercium bau
wangi pakaian Ratu Harisbaya.
Tempat itu kemudian disebut Darmawangi. Pasukan tentara
Cirebon bersiap - siap hendak menyergap Prabu Geusan Ulun. Terjadilah
pertempuran yang seru antara ke empat pengiring dengan pasukan Cirebon. Namun
pasukan Cirebon diamuk oleh Embah Jaya Perkasa sehingga lari tunggang langgang.
Prabu Geusan Ulun, keempat pengiringnya, dan Putri Harisbaya
sudah tiba di Kutamaya. Ratu Harisbaya ditempatkan di sebuah tempat yang dijaga
ketat oleh hulubalang. Baginda Prabu Geusan Ulun tidak berani dekat-dekat
apalagi memegang tangannya sebab Putri Harisbaya belum menjadi istri, belum
diceraikan oleh Pangeran Girilaya.
Pada suatu waktu terbetiklah berita oleh Embah Jaya Perkasa
bahwa Cirebon akan menyerang Sumedang Larang. Berita itu segera disampaikan
kepada ketiga temannya dan kemudian keempat orang itu menghadap Prabu Geusan
Ulun untuk dirundingkan.
Dalam perundingan diputuskan bahwa tentara Cirebon sebelum
menyerang harus dihadang di perbatasan jangan sampai Sumedang Larang dijadikan
medan pertempuran. Embah Jaya Perkasa berkata kepada Prabu Geusan Ulun.
"Paduka yang mulia!. Hamba berempat sanggup menghadap
musuh. Gusti jangan khawatir dan jangan gentar, diam saja di keraton. Hanya
hamba akan memberi tanda yaitu hamba akan menanamkan pohon hanjuangi) di sudut
alun - alun. Nanti, jika perang sudah selesai, lihatlah! Jika pohon hanjuang
itu rontok daunnya suatu tanda bahwa hamba gugur di medan perang, tetapi jika
pohon itu tetap segar dan tumbuh subur itu suatu tanda bahwa hamba unggul di
medan perang,". (Sumber Sindo -bersambung)

Belum ada tanggapan untuk "Mbah Jaya Perkasa dan Prabu Geusan Ulun : Ratu Harisbaya"
Posting Komentar