Setelah berkata demikian Embah Jaya Perkasa segera menanamkan
pohon hanjuang di sudut alun-alun. Pohon hanjuang itu tumbuh dengan suburnya
bagai ditanam sudah beberapa minggu saja.
Selesai menanamkan pohon hanjuang, berangkatlah keempat
andalan negara itu ke medan perang, mempertaruhkan nyawanya.
Sesampainya di perbatasan, terlihat tentara Cirebon sedang
berjalan berbaris menuju Sumedang Larang.
Melihat barisan tentara Cirebon yang sangat panjang itu
segeralah keempat patih bersujud memohon perlindungan kepada Yang Maha Agung.
Terjadilah perang yang seru sekali.
Berkat kesaktian keempat patih itu tentara Cirebon banyak
yang tewas. Embah Jaya Perkasa mengamuk di tengah-tengah barisan tentara
Cirebon, terus mengobrak-abrik. Mayat bergelimpangan bertumpang tindih tak
terhitung banyaknya sehingga beberapa tentara Cirebon yang masih hidup lari
tunggang-langgang.
Tentara Cirebon yang masih hidup itu terus dikejar oleh
keempat patih. Embah Jaya Perkasa yang telah banyak membunuh, makin
bersemangat, dia terus mengejarnya, makin lama makin jauh dari ketiga temannya.
Setelah sekian lamanya Embah Jaya Perkasa tidak kelihatan
kembali. Karena tidak kunjung datang, ketiga patih lainnya pulang ke Sumedang
Larang akan mengabarkan keadaan Embah Jaya Perkasa kepada Prabu Geusan Ulun.
Mendengar berita hilangnya Embah Jaya Perkosa, Prabu Geusan Ulun bingung, tidak
tahu apa yang harus dikerjakan. Akhirnya tanpa melihat pohon hanjuang di sudut
alun-alun, sang prabu memerintahkan agar semua rakyat yang mau mengabdi segera
meninggalkan Sumedang Larang.
Mendengar titah rajanya itu segeralah rakyat mengikuti
rajanya dengan membawa apa saja yang dapat dibawanya. Rombongan Prabu Geusan
Ulun sudah sampai di Batugara. Di sana permaisuri baginda, yang bernama Nyi Mas
Gedeng Waru, sakit keras sampai wafatnya.
Karena Batugara tidak cocok untuk keraton kemudian terus
menuju lereng sebuah gunung, di sana dapat melihat pemandangan ke mana-mana.
Sesudah beristirahat, lereng gunung itu dibuka dan didirikanlah keraton serta
alun-alun. Bekas alun-alun itu sekarang masih ada disebut Dayeuhluhur. (Sumber Sindo -bersambung)

Belum ada tanggapan untuk "Mbah Jaya Perkasa dan Prabu Geusan Ulun : Perang"
Posting Komentar